Selasa, 03 April 2012

POTENSI MANGROVE SEBAGAI PENYERAP LOGAM BERAT DI WILAYAH PESISISIR


PENYUSUN:
Hendra Saputra              115080107111006      -2011
Tiyan Alfianto                115080101111022      -2011
Dikky Ristan Arifullah  115080100111018      -2011
POTENSI MANGROVE SEBAGAI PENYERAP LOGAM BERAT DI WILAYAH PESISISIR

Ringkasan


 Hutan mangrove memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan logam berat dalam jaringan tubuh sepeti daun, batang dan akar yang terbawa di dalam sedimen, sebagian sumber hara tersebut dibutuhkan untuk melakukan proses-proses metabolisme.

Dari hasil analisa organolaptik terdapat bukti nyata bahwa mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza tahan terhadap konsentrasi toksik sedangkan mangrove jenis Avicennia marina dan Rhizophora mucronata tidak tahan terhadap konsentrasi toksik. Tetapi mangrove jenis Avicennia marina, Rhizophora mucronata, dan Bruguiera gymnorrhiza dapat menyerap logam berat dengan efektif terbukti pada analisa logam berat yang dilakukan.

Kemampuan mangrove dalam menyerap logam berat memiliki perlakuan yang berbeda terhadap konsentrasi toksik pada setiap jenisnya, agar dapat mengurangi tingkat pencemaran di atmosfer, tanah sedimen, dan air logam berat dengan maksimal. Tumbuhan mangrove ini termasuk jenis tumbuhan air yang mempunyai kemampuan sangat tinggi untuk mengakumulasi logam berat yang berada pada wilayah perairan.



`PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sifat – sifat  Logam berat yaitu Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan), dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut. Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari konsentrasi logam dalam air. Disamping itu sedimen mudah tersuspensi karena pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air, sehingga sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu (Sutamihardja dkk, 1982).
Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3. Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya.Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau daya racun logam berat terhadap hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah) sebagai berikut merkuri (Hg), kadmium (Cd), seng (Zn), timah hitam (Pb), krom (Cr), nikel (Ni), dan kobalt (Co) (Sutamihardja dkk, 1982).
Polutan logam berat yang berada di wilayah pesisir umumnya banyak berasal dari baterai, karena baterai mengandung unsur timbal (Pb) yang beracun dan berbahaya bagi makhluk hidup. Selain itu, polutan logam berat di wilayah pesisir juga berasal dari pembuatan baterai, plastik PVC, pigmen cat, pupuk, rokok, dan kerang yang mengandung unsur kadmium (Cd). Adanya logam berat di wilayah pesisir berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan organisme, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Untuk itu adanya hutan bakau di wilayah pesisir digunakan sebagai penyerap Logam berat.

Tujuan Penulisan
Secara umum program karya tulis ini dibuat untuk memberikan gagasan baru yaitu untuk :
1.    Memberikan gagasan baru dalam mengetahui potensi hutan mangrove
sebagai penyerap polutan logam berat di wilayah pesisir.
2.    Untuk mengetahui kandungan unsur hara yang terdapat di wilayah hutan mangrove
3.    Untuk memberikan informasi pengetahuan masyarakat dari semua dampak positif hutan mangrove untuk mencegah dampak negatif dari wilayah laut.
4.    Untuk meningkatkan kualitas hutan mangrove di wilayah pesisir.

Manfaat Penulisan
Adapun maanfaat yang ingin dicapai dari gagasan tersebut adalah untuk memberikan wawasan kepada masyarakat termasuk stakeholder tentang fungsi mangrove sebagai pelindung di kawasan pesisir, seperti :
1.      mencegah abrasi dengan meredam energi gelombang arus laut,
2.      menjaga kestabilan garis pantai,
3.      selain itu juga berpotensi menyerap polutan logam berat di wilayah pesisir.
GAGASAN


Gagasan penulisan ini didasarkan pada kondisi saat ini bahwa Indonesia mempunyai luas lautan 5,8 km2 dengan jumlah pulau 17.506 dan garis pantai 81.000 km serta merupakan negara kepulauan (Setiawan, 2010). Pertama, pencemaran perairan pesisir yang semakin meningkat baik jumlah dan jenisnya yang mengakibatkan penurunan produktivitas perikanan dan kerusakan sumber daya alam. Kedua, degradasi fisik habitat atau keanekaragaman hayati, seperti berkurang/rusaknya ekosistem mangrove dalam skala luas area yang cukup besar yang mengakibatkan terganggunya ekosistem estuary. Ketiga, fungsi kawasan sebagai pusat aktivitas sosial ekonomi skala pelayanan nasional dan internasional dengan pola pemanfaatan ruang yang belum tertata/terpadu secara horizontal Timur Barat dan vertikal Utara Selatan (

Pemanfaatan Hutau Mangrove sebagai Sumber Bahan Kayu Bakar.
Masyarakat menganggap bahwa hutan mangrove merupakan sumber kayu yang tidak ada pemiliknya sehingga dapat diambil secara bebas tanpa ijin. Akibatnya eksploitasi hntan mangrove tidak terkendali, sehingga menyebabkan putensi hutan mangrove menurnn karena kernsakan yang terjadi semakin besar yang selanjutnya akan mengancam ketersediaan kayu bakar untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat sekitar. Dengan demikian dirasakan perlu untuk dilakukan suatu penelitian mengenai pemanfaatan hutan mangrove sebagai sumber bahan kayu bakar oleh masyarakat sekitar (Setiaji, Aji, 2001).

Pemanfaatan Hutan Mangrove sebagai Tanaman Obat
Sebagian besar bagian dari tumbuhan mangrove bermanfaat sebagai bahan obat. Ekstrak dan bahan mentah dari mangrove telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir untuk keperluan obat-obatan alamiah. Campuran senyawa kimia bahan alam oleh para ahli kimia dikenal sebagai pharmacopoeia. Sejumlah tumbuhan mangrove dan tumbuhan asosiasinya digunakan pula sebagai bahan tradisional insektisida danpestisida. Contohnya Untuk kepentingan analgesik (pembiusan), senyawa dari Acanthus illicifolius, Avicennia marina, dan Excoecarcia agallhocha mempunyai khasiat bius namun efektivitasnya masih sedikit di bawah khasiat morfin (Purnobasuki, 2004).

Hutan Mangrove sebagai Spawning Ground (Tempat Pemijahan)
Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain adalah sebagai spawning ground atau tempat pemijahan bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun terumbu karang (Rochana, 2011).



Arisandi (1996) melaporkan bahwa Pantai Timur Surabaya ditumbuhi vegetasi mangrove yang didominasi oleh jenis pohon api-api (Avicennia marina). Ekosistem mangrove di Pantai Timur Surabaya berpotensi sebagai bioakumulator logam berat. Dari hasil penelitian terhadap kandungan logam berat tembaga (Cu) pada mangrove jenis Avicennia marina yang dilakukan oleh Daru Setyo Rini Ssi (Peneliti Madya Lembaga Kajian dan Konservasi Lahan Basah-ECOTON) pada tahun 1999 menunjukkan hasil bahwa pohon api-api (Avicennia marina) di Muara Kali Wonorejo mengandung tembaga (Cu) di bagian akar sebesar 8,1782 μg/gr, dibagian kulit batang sebesar 3,8844 μg/gr dan di bagian daun sebesar 2,4649 μg/gr. Sedangkan rata-rata kandungan tembaga (Cu) dalam sedimen di Muara Kali Wonorejo adalah 12,7277 μg/gr.
Kemampuan vegetasi mangrove dalam mengakumulasi logam berat dapat dijadikan alternatif perlindungan perairan estuari Pantai Timur Surabaya terhadap pencemaran logam berat. Pantai Timur Surabaya diberitakan telah tercemar oleh merkuri (Hg) dan tembaga (Cu). Hal ini merujuk pada penelitian Anwar (1996) yang menunjukkan bahwa darah masyarakat nelayan di Kenjeran mengandung tembaga (Cu) sebesar 2511,07 ppb dan merkuri (Hg) sebesar 2,48 ppb, padahal ambang batas tembaga dalam darah menurut ketetapan WHO adalah 800-1200 ppb, (Rini, 1999).

Pihak-pihak yang Dipertimbangkan Dapat Membantu Pelaksanaan Gagasan
a.    Aparat Keamanan Taman Nasional:
   Dengan adanya aparat keamanan, diharapkan dapat menjaga kelestarian hutan mangrove dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
b.    Peneliti
Peneliti diharapkan dapat terus meneliti lebih lanjut tentang potensi mangrove sebagai penyerap polutan logam berat.
c.    Masyarakat Daerah Pesisir:
Kontribusi dari masyarakat pesisir tidak kalah penting, dari mereka juga hutan-hutan mangrove bisa dilindungi serta dilestarikan. Dan mereka juga diharapkan dapat membantu mensosialisasikan tentang potensi mangrove sebagai penyerap polutan logam berat di wilayah pesisir.

Langkah-langkah strategis yang harus ditempuh
  1. Upaya memberikan gambaran ke masyarakat tentang potensi mangrove sebagai penyerap logam berat
  2. Upaya yang dilakukan selanjutnya ialah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengetahui fungsi-funsi mangrove antara lain mangrove sebagai pencegah abrasi, mangrove sebagai tanaman obat, mangrove sebagai spawning ground atau tempat pemijahan, dan mangrove sebagai penyerap polutan logam berat di wilayah pesisir.
  3. Upaya yang terakhir ialah melakukan reboisasi tanaman mangrove, yaitu menanam kembali mangrove yang telah rusak atau ditebang.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.        Mangrove mamiliki banyak fungsi antara lain, mangrove sebagai pelindung di kawasan pesisir, seperti mencegah abrasi, meredam energi gelombang arus laut, menjaga kestabilan garis pantai, selain itu juga berpotensi menyerap polutan logam berat di wilayah pesisir, dll.
2.        Kita dapat mengetahui potensi hutan mangrove sebagai penyerap polutan  logam berat di wilayah pesisir.
3.        Langkah-langkah strategis yang harus ditempuh untuk merealisasikan gagasan tersebut ialah:
-     Upaya memberikan gambaran ke masyarakat tentang potensi mangrove sebagai penyerap logam berat
-     Upaya yang dilakukan selanjutnya ialah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengetahui fungsi-funsi mangrove antara lain mangrove sebagai pencegah abrasi, mangrove sebagai tanaman obat, mangrove sebagai spawning ground atau tempat pemijahan, dan mangrove sebagai penyerap polutan logam berat di wilayah pesisir.
-     Upaya yang terakhir ialah melakukan reboisasi tanaman mangrove, yaitu menanam kembali mangrove yang telah rusak atau ditebang.



                                                                DAFTAR PUSTAKA


Anwar, C. 1998. Akumulasi di Bawah Tegakan Mangrove. Prosiding Expose
Hasil Penelitian BTPDAS Surakarta, Februari 1998: 105-115. BTPDAS
Surakarta, Solo

Arisandi, 2001, “Mangrove Jenis Api-api (Avicennia marina) Alternatif Pengendalian Logam Berat Pesisir”, URL:http://www.terranet.com/, 10 Oktober 2009

Rini, D.S., 1999, “Analisis Kandungan logam Berat Tembaga (Cu) dan Kadmium (Cd) dalam Pohon Api-api (Avicennia marina) di Perairan Estuari Pantai Timur Surabaya”, Skripsi Mahasisiwi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Airlangga, Surabaya

Chairil Anwar dan Hendra Gunawan. 2006. Peranan ekologis dan sosial ekonomis hutan 
Mangrove dalam mendukung di wilayah pesisir.


 Faisal Hamzah dan Agus Setiawan.2004. Akumulasi logam berat pb, cu, dan zn di hutan mangrove muara angke, jakarta utara
 Balai Riset dan Observasi Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan
ching_ai_hamzah@yahoo.com, setiawan.agus@gmail.com

                                                                                                                                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar