Selasa, 03 April 2012


KUALITAS LINGKUNGAN PERAIRAN BANTEN DAN SEKITARNYA DITINJAU DARI KONDISI LOGAM BERAT
Oleh
ENDANG ROCHYATUN 1), LESTARI 1) DAN ABDUL ROZAK 1

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 2005 ISSN 0125 – 9830 No. 38 : 23 – 46
PENDAHULUAN
Wilayah pesisir Banten sampai Ujung Kulon merupakan badan air yang langsung menampung limbah perkotaan dan industri, sehingga daerah ini cukup rawan terhadap pencemaran. pesisir pantai Banten, Cilegon dan Anyer banyak kegiatan industri kimia, PLTU, baja, pelabuhan, perhotelan dan wisata bahari.Perkembangan industri dan pertambahan penduduk yang cukup pesat di Banten pada saat sekarang ini, akan berakibat lanjutan yaitu timbulnya bahan cemaran.
Banten merupakan wilayah yang terletak di bagian barat dari daratan Jawa. Oleh karena perkembangan pembangunan yang cukup pesat, terutama dalam bidang industri, perikanan dan wisata, Salah satu kekuatan Banten terletak pada pelabuhan, secara sektoral pelabuhan memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan turut memberikan artikulasi politik bagi daerahnya, karena pelabuhan merupakan infrastruktur strategis bagi kegiatan ekonomi, transportasi, dan bahkan bagi kelancaran akulturasi dan komunikasi antar berbagai wilayah, Hampir setiap hari ribuan manusia melewati jalan pelabuhan ini untuk keperluan dari dan ke Sumatera dan Jawa.Banten telah dikukuhkan menjadi provinsi tersendiri, yang merupakan pemekaran dari provinsi Jawa Barat. Kegiatan yang terdapat di wilayah pesisir Banten dapat dibagi menjadi tiga, yaitu bagian utara dari Teluk Banten sampai dengan Cilegon merupakan wilayah kegiatan industri. Pesisir ( Pantai ) juga dapat dimanfaatkan untuk pembangunan kawasan industri. Kini pun disepanjang jalur Cilegon – Anyer telah tumbuh industri-industri raksasa, yaitu industri baja dan kimia.
Kemajuan di bidang industri dan pertanian di masa sekarang ini mengakibatkan banyaknya aktivitas manusia di darat yang menyebabkan tekanan terhadap pertanian di sekitarnya meningkat. Pertambahan jumlah industri dan penduduk membawa akibat bertambahnya beban pencemaran yang disebabkan oleh pembuangan limbah industri, dan domestik. Pencemaran akibat kegiatan industri dapat menyebabkan kerugian besar, karena umumnya buangan/limbah mengandung zat beracun antara lain senyawa khlor, raksa, cadmium, khrom, timbal dan lain sebagainya yang sering digunakan dalam proses produksi suatu industri baik sebagai bahan baku, katalisator ataupun bahan utama.
Logam berat merupakan bahan buangan yang sudah sering menimbulkan pencemaran laut atau pantai di negara-negara yang sedang berkembang. Diketahui ada 18 jenis logam berat yang dipertimbangkan sebagai bahan pencemar, namun ada beberapa dari logam berat tersebut yang esensiel untuk kehidupan organisme, misalnya Mn, Fe dan Cu tetapi dalam jumlah berlebih sangat beracun bagi kehidupan organisme (BRYAN 1976). Sumber limbah yang banyak mengandung logam berat biasanya berasal dari aktivitas industri, pertambangan, pertanian dan pemukiman. Kandungan logam berat dalam perairan dipengaruhi oleh parameter fisika
LOGAM BERAT DIPERAIRAN BANTEN
dan kimia yaitu arus, suhu, salinitas, padatan tersuspensi dan derajat keasaman (pH). Masalah pencemaran merupakan masalah besar sebagai salah satu dampak negatip dari kemajuan bidang industri dan domestik. Limbah industri jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan dampak bagi lingkungan terhadap manusia maupun organisme-organisme yang hidup disekitarnya. Bahan cemaran logam berat biasanya berasal dari kegiatan industri selain bersifat racun bagi organisme perairan, logam berat dapat terakumulasi dalam tubuh ikan,udang dan hasil laut lainya. Hal ini akan berakibat membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi hasil–hasil laut tersebut. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan estuaria merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan logam tersebut oleh manusia. Pada air laut di lautan lepas kontaminasi logam berat biasanya terjadi secara langsung dari atmosfer atau karena tumpahan minyak dari kapal-kapal tanker yang melaluinya, sedangkan di daerah sekitar pantai kontaminasi logam kebanyakan berasal dari mulut sungai yang terkontaminasi oleh limbah buangan industri atau pertambangan (DARMONO 1995).Pada daerah-daerah perindustrian, sungai dan laut disekitarnya umumnya berangsur-angsur menerima tekanan terus menerus. Muara sungai umumnya merupakan alur perjalanan bahan cemaran yang dibawa melalui sungai dari aktivitas didarat ke laut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan Banten dan sekitarnya ditinjau dari logam beratnya sebagai dampak dari kegiatan pembangunan di wilayah pesisir pantai Banten.
BAHAN DAN METODE
Penelitian tingkat pencemaran di perairan Banten dan sekitarnya telah dilakukan sebanyak 4 kali, Contoh air laut diambil dari 21 stasiun dan contoh sedimen diambil dari 7 stasiun yaitu pada bulan April 2001 (Merak, Cilegon sampai dengan Anyer), bulan Juni 2001 (Anyer sampai dengan Carita) 22 stasiun air laut dan 13 stasiun sedimen, bulan Agustus 2001 (Carita sampai dengan Batucawar) 22 stasiun air laut dan 22 stasiun sedimen dan bulan Oktober 2001 (Teluk Pujut- Teluk Banten) 21 stasiun air laut dan 9 stasiun sedimen (Gambar 1, 2, 3, 4, & 5).
Contoh air laut diambil dengan menggunakan Water Sampler Van Dorn yang volumenya lebih dari 5 liter. Segera setelah pengambilan contoh air dimasukkan kedalam botol polietylen yang volumenya lebih kurang 1 liter. Contoh air tersebut segera disaring dengan kertas saring sellulose nitrat (0,45 um dengan garis tengahnya 47 mm) yang sebelumnya dicuci dengan HNO3 (1:1) setelah itu diawetkan dengan HNO3 (pH < 2) (BATLEY & GARDNER 1977). Contoh air kemudian dibawa ke laboratorium di Jakarta. Di laboratorium air tersebut (250 ml) dimasukkan dalam corong pisah teflon, kemudian diekstraksi dengan APDC/NaDDC/MIBK.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Merak, Cilegon – Anyer
Hasil analisa kadar logam berat (Pb, Cd, Zn, Ni dan Cu) dalam air laut dan sedimen di perairan pesisir Merak, Cilegon – Anyer disajikan dalam Tabel 1 dan 2.
Dalam Tabel 1 tampak bahwa kadar logam berat (Pb, Cd, Zn, Ni dan Cu) dalam air laut berkisar antara Pb = <0,001-0,018 ppm (rata-rata = 0,006), Cd = <0,001-0,001 ppm (rata-rata = 0,001 ppm), Zn = <0,001-0,018 ppm (rata-rata = 0,005 ppm), Ni = <0,001-0,004 ppm (rata-rata = 0,001 ppm) dan Cu = 0,006 ppm) di perairan pesisir Merak – Anyer adalah logam Pb, kadar tertinggi tersebut ditemukan di Stasiun 5, 7, 10, 14, 19 dan 21. Hal ini kemungkinan disebabkan karena lokasi tersebut merupakan jalur transportasi perahu-perahu nelayan, bongkar muat beraneka ragam barang dari kapal-kapal dan kondisi pola arus pasang surut yang cukup tenang menyebabkan bahan cemaran yang mengandung logam Pb mengalami proses pengenceran cukup rendah, sehingga akan mengendap didasar laut. Kadar logam berat (Pb, Zn, Ni dan Cu) di dalam sedimen juga tinggi yaitu di Stasiun 1, 3, 5, dan 9. (Tabel 2 & Gambar 2). Lain halnya dengan stasiun yang lainya yang letaknya jauh dengan aktivitas
Kadar logam berat dalam air laut yang cukup tinggi di perairan pesisir Merak, Cilegon dan Anyer untuk parameter Pb, Cd, Ni dan Cu ditemukan di Stasiun 5 (Cilegon), kadar Zn di Stasiun 2 (Merak). Hal ini kemungkinan karena Stasiun-stasiun tersebut merupakan jalur transportasi keluar masuk kapal-kapal ke Sumatera dan Jawa, tempat berlabuhnya kapal-kapal tanker maupun feri yang menunggu giliran untuk berjalan dimana kapal–kapal tersebut membuang air balas yang mengandung logam Pb, Cd, Ni dan Cu ke laut, sehingga kadar logam tersebut tinggi. Sedangkan kadar logam berat dalam air laut yang cukup rendah adalah Cd, Ni dan Cu ditemukan pada umumnya di hampir semua stasiun dan lokasi.
KESIMPULAN
Kadar logam berat dalam air laut disepanjang pesisir pantai Banten (dari Teluk Banten di sebelah Utara sampai Batucawar di sebelah Selatan) sangat bervariasi namun kisaran kadar logam beratnya konsentrasi masih tergolong rendah.
Di perairan Banten–Merak logam berat dalam air laut maupun sedimen pada umumnya lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan dengan ketiga perairan lainya (Merak–Anyer, Anyer–Carita dan Carita–Batucawar)
Kisaran kadar logam berat dalam air laut di sepanjang perairan Banten mulai dari Teluk Banten sampai Batucawar masih memenuhi Baku Mutu Air laut yang ditetapkan Kantor Mentri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KMNKLH, 1988) dan KMNKLH. 2004. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar